Warga Minta Bibit Pisang Tanpa Jantung

PALANGKA RAYA-Warga Desa Bangun Harja, Kecamatan Seruyan Hilir Timur, Kabupaten Seruyan, minta bantuan bibit pisang baru agar roda perekonomiam di wilayah tersebut bisa kembali berjalan. Pasalnya, tanamam pisang jenis gepok yang sebelumnya menjadi usaha masyarakat Desa Bangun Harja, sempat gagal panen karena terserang virus fusarium dan bakteri darah.


Harapan ini disampaikan langsung oleh masyarakat Desa Bangun Harja kepada anggota DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) Syahrudin Durasid, saat dirinya melaksanakan reses ke Kabupaten Seruyan menyerap aspirasi masyarakat, pekan lalu.


“Saat saya melaksanakan reses ke Desa Bangun Harja, masyarakat di sana minta bantuan berupa bibit pisang tanpa jantung. Karena tahun sebelumnya tanaman pisang jenis gepok yang menjadi usaha masyarakat gagal panen,” kata Syahrudin, saat dibincangi, di gedung dewan, Senin (15/4).


Sementara berdasarkan penelitian laboratorium dari hasil sampel yang dikirim ke Jawa, virus dan bakteri tersebut menyerang melalui jantung pisang, sehingga salah satu solusi yang dapat digunakan adalah dengan mengembangkan tanaman pisang tanpa jantung di lahan masyarakat seluas kurang lebih 600 hingga 1000 hektare yang sempat ditanami pisang gepok tersebut.


Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) II, meliputi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dan Seruyan ini juga menerangkan, virus fusarium dan bakteri darah menyerang bagian dalam buah pisang, dengan cara mempercepat proses pembusukan, sehingga pisang tidak dapat dikonsumsi dan berdampak merugikan petani hingga ratusan juta rupiah.


“Karena gagal panen kemarin, kerugian yang diderita masyarakat setempat mencapai ratusan juta rupiah, oleh karena itu masyarakat sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah (Pemprov) maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan melalui Dinas Pertanian,” terang Anggota Komisi B DPRD Kalteng, yang membidangi ekonomi dan sumber daya alam (SDA) ini.


Dikatakan, dengan adanya kejadian ini, banyak masyarakat yang trauma untuk menanam pisang, tapi sekarang mereka bangkit kembali dengan mengharapkan bantuan dan perhatian pemerintah.


“Yang dikhawatirkan sekarang adalah virus fusarium dan bakteri darah tersebut juga menyerang desa-desa lain,” pungkasnya.