Keluarga Difabel Terharu Pesan Yulistra Ivo

HARI ANAK NASIONAL


PALANGKA RAYA- Setiap orang tua tentu mendambakan anak yang sehat, kuat, dan memiliki karakter yang baik. Namun demikian, tidak sedikit anak yang lahir dengan kondisi tidak normal atau difabel. Mirisnya lagi, ada orang tua yang menelantarkan anaknya karena lahir tidak sempurna.


Kondisi itulah yang dihadapi oleh para orang tua yang menyekolahkan anaknya di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Palangka Raya Jalan Pelajar/Matal Palangka Raya. Tapi mereka patut diapresiasi. Meski kenyataan pahit, tetap sabar merawat, membesarkan hingga mendampingi anak-anaknya turun ke sekolah.


Rangkaian peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2019, Ketua Tim Penggerak PKK Kalteng Yulistra Ivo Sugianto Sabran bersama dengan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kalteng dr. Rian Tangkudung dan Plt Kadis Disdik Kalteng Mofit Saptono sejumlah jajaran mengunjungi SLBN 2 Palangka Raya, Selasa (5/11).


Kunjungan tersebut memberikan semangat dan dukungan moril bagi para orang tua agar tetap berjuang demi masa depan anaknya. Satu pesan yang sangat mengharukan, bahkan sampai membuat orang tua anak menangis, yakni agar orang tua tidak putus asa dengan kondisi anaknya.


Yulistra Ivo sendiri hampir meneteskan air mata atas ketulusan para guru dalam mengajar, dan kasih sayang yang diberikan orang tua yang menyekolahkan juga mendampingi anaknya selama bersekolah.


“Anak-anak memiliki hak yang sama, baik dalam kondisi yang normal ataupun difabel. Tidak ada yang membedakan. Para orang tua, jangan putus asa, tetap semangat, tetap berjuang, berikan yang terbaik bagi anaknya. Setiap kita tidak ada yang tahu seperti apa masa depan anak kita. Karena itu, kondisi yang dihadapi para orang tua jangan sampai meremehkan masa depan anak kita,” kata Yulistra Ivo, saat memberikan pesan dan semangat dalam kunjungannya.


Kepada para guru, kata Yulistra Ivo berterima kasih atas ketulusan dan pengabdian dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mendidik. Diperlukan ketulusan juga kesabaran yang sangat luar biasa besar untuk dapat melakukan interaksi dengan semua anak-anak ini.


Skema komunikasi tentu tidak semudah berkomunikasi dengan anak dalam kondisi normal. Apresiasi dan penghargaan disampaikan kepada semuanya, baik kepala sekolah, guru, staf, sampai orang tua yang sudah dengan penuh semangat menyekolahkan anaknya.


Terakhir, kata Yulistra Ivo, anak dengan kondisi difabel wajib mendapatkan perlindungan yang sama dengan anak pada umumnya. Tidak boleh ada diskriminasi dalam hal apapun, karena semuanya mendapatkan hak yang sama. Kondisi fisik yang sedikit berbeda, bukan berarti ada perbedaan dalam hal pemberian hak anak. UU mengamanatkan untuk pemberian hak anak, tanpa membeda-bedakan.


Yulistra Ivo juga mengkritik kondisi jalan menuju SLBN 2 yang cukup jauh, dan dalam kondisi yang memprihatinkan. Ke depan, harapan besar kondisinya dapat dilakukan pembenahan sehingga dapat dilalui dengan lebih nyaman.