Hasil Laut Seruyan Rawan Dicuri

PALANGKA RAYA – Hasil laut di Kabupaten Seruyan yang cukup melimpah, sangat rawan dicuri oleh para nelayan dari luar. Hal itu disebabkan karena Sarana dan Prasarana (Sapras) pengawasan laut di daerah itu masih minim.


Hal itu disampaikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan, pada pertemuan dengan Komisi II DPRD Kalteng, saat melaksanakan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Kabupaten tersebut, Rabu (18/11).


Menurut Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Lohing Simon dalam kunker ke dalam daerah yang dilaksanakan beberapa hari ini, pihaknya dari Komisi II yang membidangi Ekonomi dan Sumber Daya Alam (SDA) mengunjungi Kabupaten Seruyan.


Dimana salah satu tujuannya dalam rangka mendorong optimalisasi pemberdayaan dan pengelolaan budidaya perikanan serta penyederhanaan dan pengembangan sistem perizinan. “Dalam kunjungan itu, disampaikan bahwa Pemkab Seruyan mengalami kesulitan sarana dan prasanan pengamanan pontensi kelautan,” kata Lohing, dalam rilisnya yang diterima, Rabu (18/11).


Dikatakan, salah satu potensi laut yang rawan dicuri di daerah itu adalah Cumi-cumi. “Di daerah ini marak penangkapan Cumi-cumi ilegal oleh Nelayan dari pulau Jawa saat musim Cumi-cumi,” ungkap legislator dari Fraksi PDI Perjuangan ini.


Lebih lanjut dijelaskan, saat ini kewenangan pengamanan potensi wilayah laut berada di pemerintah pusat dan Provinsi. Oleh sebab itu, diusulkan agar di daerah itu didirikan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengawasan Perikanan.


“UPTD ini dibentuk ntuk mencegah pencurian potensi hasil laut di Kabupaten Seruyan, sehingga kedepan hasil laut di Kabupaten ini bisa dikelola secara maksimal oleh nelayan setempat,” terang wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, meliputi Kabupaten Katingan, Gunung Mas (Gumas) dan Kota Palangka Raya ini.


Lohing menjelaskan, sebelumnya Komisi II juga telah membicarakan masalah tersebut dengan Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Namun, masih terkendala kebutuhan anggaran yang cukup besar. Sehingga akan di lakukan koordinasi ulang bersama Pemerintah Provinsi dan Kabupaten.


“Ada juga beberapa permasalahan atau tantangan yang dihadapi petani budidaya ikan di kabupaten Seruyan, seperti tingginya harga pakan, kami dari Komisi II menyarankan kepada Pemkab untuk lebih intensif memberi pelatihan penyediaan pakan mandiri bagi petani tambak. Diantaranya dengan memanfaatkan ikan laut bernilai ekonomi rendah yang diolah dengan mesin sehingga lebih tahan lama,” kata Lohing.


Kemudian, pihaknya juga berharap kepada Pemkab Seruyan untuk intens berkomunikasi dengan Pemprov Kalteng melalui DPRD Kalteng untuk pembangunan perikanan Seruyan. Khususnya strategi pemenuhan pakan ikan mandiri dan pembangunan pabrik tepung ikan.