Ditemukan Solar dan Obat Nyamuk Bakar

## Gubernur Minta Kapolda Tangkap Pelakunya


## Sepekan, Titik Api di Kalteng Meluas


 


PALANGKA RAYA- Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mengatakan kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Palangka Raya dinilai tidak wajar karena petugas di lapangan ada menemukan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan obat nyamuk bakar, tetapi pelakunya belum diketahui.


Orang nomor satu di Provinsi Kalteng itu mengaku sudah berkoordinasi dengan Kapolda Kalteng terkait hal tersebut dan diharapkan agar pelakunya dapat segera tertangkap.


“Seperti sekarang ada alat bukti (solar dan obat nyamuk bakar), maka kita minta Kapolda, dari Polri untuk segera menangkap pelakunya,” ujar Sugianto saat ditemui usai melakukan pertemuan dengan Camat, Lurah, Ketua RT/RW se-Kota Palangka Raya, di Istana Isen Mulang, Senin (12/8) sore.


Dengan temuan tersebut, ujar Sugianto, diharapkan dapat segera ditindaklanjuti dan pelakunya segera ditangkap dan diproses. “Sudah kita bicarakan dengan pak Kapolda. Diharapkan segera ditangkap dan diproses pelakunya,” tandasnya.


Dalam kesempatan itu, Gubernur menyampaikan bahwa dirinya sudah meminta kepada pihak yang berwajib, apabila ada ditemukan pelaku pembakar lahan di daerah ini, ditangkap dulu agar memberikan efek jera, karena saat ini Palangka Raya dikepung asap.


Di saat musim kemarau yang kering seperti ini, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan hal-hal yang berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan.


“Tidak boleh melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, terutama di lahan gambut,” tambahnya.


Karena akibat kebakaran lahan merugikan semua pihak, merugikan lingkungan, mengganggu kesehatan, mengganggu aktivitas belajar mengajar, mengganggu penerbangan, dan mengganggu perekonomian daerah.


 


2,7 Ribu Titik Api  


Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalteng semakin meluas setiap harinya. Sepekan terakhir, data titik api dan luasan kebakaran terus meningkat. Hingga 6 Agustus 2019, titik api di Kalteng mencapai 1.841, dengan kejadian kebakaran mencapai 938 kebakaran, dan menghanguskan 1.796,86 hektare. Jumlah itu bertambah, pada 12 Agustus 2019 titik api mencapai 2.779, dengan 775 kejadian kebakaran, dan menghanguskan 2.500,45 hektare.


Kepala Sub Bidang Fasilitasi Penyelamatan dan Bantuan Bencana  Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalteng Vivien Rose Engely mengatakan, data terus diupdate atau diperbaharui sebagai bahan informasi. Artinya, setiap data yang terkait dengan Karhutla terus dilakukan pembaharuan.


Meningkatnya titik api, kata Vivien, tidak lepas dari cuaca di Kalteng sekarang ini yang masih dalam kondisi kemarau. Berdasarkan Analisis Potensi Kemudahan Terjadi Kebakaran atau Indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC), analisis tingkat kemudahan terjadinya kebakaran di wilayah Kalteng masuk dalam kategori Sangat Mudah Terbakar dan Sangat Sulit Pengendaliannya atau berwarna merah.


“Data Posko Satgas Karhutla Kalteng, ada sejumlah daerah yang memiliki titik api cukup tinggi. Sejauh ini Palangka Raya tetap menyumbang titik api tertinggi dengan 704 titik api. Sementara di Kabupaten Pulang Pisau jumlah titik api mencapai 490 titik api, kemudian Kabupaten Kotawaringin Timur 446 titik api,” kata Vivien, Senin.


Permasalahan yang dihadapi, kata Vivien, ketersediaan air selama proses pemadaman tidak sebanding dengan luas lahan yang terbakar. Akses menuju lokasi kebakaran juga sangat sulit untuk dilalui, sehingga menghambat proses pemadaman. dkw/ded