Dewan Soroti Soal Pembinaan Keluarga Harmonis

Hindari KDRT Melalui Komunikasi Antar Keluarga


PALANGKA RAYA-Adanya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi salah satu persoalan yang kerap terjadi di era ini. Untuk menanggulangi itu diperlukan berbagai konsep menyangkut lingkup internal keluarga.


Permasalahan itu sendiri mendapat tanggapan, dari kalangan DPRD Provinsi. Menurut anggota Komisi C Ina Prayawati memang KDRT sendiri dikategorikan terjadi akibat sejumlah faktor. Bisa saja dari persoalan ekonomi hingga masalah pribadi. “Kuncinya adalah keterbukaan dalam lingkup keluarga dalam hal apapun,” ujarnya kepada awak media, belum lama ini.


Keterbukaan itu terutama terhadap anak selaku orangtua yang baik. Intinya adalah memposisikan diri sebagai teman pembimbing bahkan pengajar dalam suasana yang akrab.


Penerapan itu mesti menjadi kebiasaan rutin dalam membina keluarga yang harmonis. Kalau itu semua dapat dilakukan dengan baik, maka mampu menghindari problema KDRT dalam keluarga.


Namun menyangkut adanya kasus semacam itu, dirinya menegaskan hal itu tidak boleh terjadi. Saat ini sudah ada UU yang mengatur tentang perlindungan anak dan perempuan. “Implementasi dari aturan itu saat ini sudah cukup bagus. Di mana anak dan perempuan saat ini sudah sangat dilindungi dari hal semacam kekerasan,” kata legislator dari Fraksi PDIP tersebut.


Yang pasti secara keseluruhan sudah memiliki hak-hak yang sama. Maka untuk itu agar lebih maksimal ke depannya, regulasi itu bisa terus disosialisasikan dengan baik.


Pihak terkait juga bisa gencar untuk menyuarakan aturan itu demi terwujudnya perlindungan yang optimal. Lalu menyangkut sanksi yang sudah diatur terhadap pelakunya juga sudah sangat bagus.


Namun yang perlu menjadi perhatian, apabila terjadi kekerasan terhadap anak dalam rumah tangga adalah psikologis orangtuanya. Apakah memang perlu mendapat pembenahan atau memang wajib ditindaklanjuti secara tegas. Pasalnya banyak sebab-akibat, yang melatarbelakangi terjadinya KDRT itu.


Wanita murah senyum itu juga menyarankan agar mendidik anak tidak harus dengan kekerasan. Kalau memang sang anak berulah nakal, tidak perlu diladeni dengan pukulan, cubitan, atau hal yang menyakitkan. Namun berikan, nasehat atau kata-kata yang baik dan tidak kasar. Jangan sampai anak menerima perlakuan yang tidak seharusnya.


Kondisi seperti itu bisa saja membuat traumatis bagi anak. Bahkan psikologisnya akan terganggu apalagi ketika anak dalam masa pertumbuhan menuju kedewasaan. Tidak diketahui apa efek yang kurang baik bagi si anak di masa yang akan datang. Bisa saja menjadi temperamen, pendiam atau hal yang tidak diinginkan.


Yang dikhawatirkan, ketika masa kecil penuh dengan kekerasan, ada indikasi memunculkan tindakan kriminalitas si anak terhadap orang lain.


Perlu kebijaksanaan serta kedewasaan, dalam menyikapi suatu permasalahan. Sebesar apapun persoalannya, jangan menjadikan anak (apalagi yang masih kecil atau lagi bertumbuh) dijadikan sasaran/target. Berikan pendidikan yang sewajarnya dan maksimal. Tentunya juga dengan pengertian dari seorang ibu atau bapak selaku kepala rumah tangga.