Bukit Rawi Banjir, Macet 8 Kilometer

PALANGKA RAYA – Tingginya curah hujan yang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah, membuat sejumlah daerah aliran sungai meluap dan merendam beberapa kabupaten.


Di Pulang Pisau, banjir kiriman akibat luapan Sungai Kahayan mulai terjadi beberapa hari ini di Jalan Trans Kalimantan Bukit Rawi, Kecamatan Kahayan Tengah.


Ruas jalan di lokasi langganan banjir tersebut terendam sekitar 50 cm dan membuat macet arus lalu lintas sepanjang 8 kilometer.  Belum ada pihak Kepolisian untuk mengatur sistem buka tutup jalan, Minggu (29/4) sore.


“Ini kami rekan-rekan dari beberapa Badan Pemadam Swasta saja, dari tadi belum ada pihak Kepolisian yang membantu untuk mengatur buka tutup jalan,” kata seorang anggota Damkar yang tak mau disebutkan namanya.


Dia mengatakan, banyak warga yang berdiri di tengah jalan, tapi hanya untuk meminta uang tanpa membantu mengarahkan arus kendaraan atau menjaga titik jalan yang berlubang.


Pantauan Tabengan di lapangan, kemarin, antrean kendaraan dari arah Palangka Raya terlihat usai Jembatan Sei Lais tersebut terhambat karena kurangnya personel yang mengatur arus kendaraan. Sebab, banyak titik lubang di jalan dan dalamnya genangan air yang memerlukan rambu dan penjagaan.


Banyak kendaraan roda dua yang mogok karena nekat menerjang banjir, rata-rata mereka tidak tahu bagian jalan yang airnya cukup dalam maupun berlubang.


“Saya dari Amuntai mau ke Sampit, motor saya mogok tadi karena masuk lubang yang dalam sampai airnya masuk ke mesin. Perjalanan saya terhambat 2 jam karena banjir dan motor mogok,” ujar Agus, pengguna jalan, sembari mencoba menyalakan motornya.


Beberapa Badan Damkar yang membantu mengamankan dan mengatur arus lalu lintas antara lain, BPK Laskar Kahayan, Pemadam Berkat Usaha, dan BPK Amin Subur. Sejumlah anggota Damkar memasang tali rafia untuk membuat batas jalan yang dapat dilalui agar pengendara tidak masuk ke bahu jalan yang airnya dalam.


Ruas jalan semakin menyempit karena banyak kendaraan yang mogok, sehingga jalur yang dapat dilalui pun semakin kecil. Di beberapa titik genangan air mencapai lutut orang dewasa, sehingga untuk kendaraan roda dua dan roda empat dihimbau untuk berhati-hati dan mengikuti arahan beberapa petugas.


Hingga Minggu sore air yang membanjiri jalan semakin naik, dan petugas yang berwenang belum juga didatangkan.


 


1.190 Rumah Terendam


Banjir akibat luapan Sungai Barito di Kabupaten Barito Utara kian meluas, Minggu (29/4). Banjir dengan ketinggian mencapai 0,5-1,5 meter itu merendam 1.190 rumah warga di 6 kecamatan.


Tak hanya itu, banjir juga merendam puluhan bangunan fasilitas umum, sekolah, sarana kesehatan, kompleks pertanian dan perkebunan milik warga. 


Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barut merinci banjir yang terjadi di wilayah Kecamatan Teweh Tengah mengakibatkan 159 rumah terendam, 189 Kepala Keluarga, tiga sekolah, dua rumah ibadah sarana kesehatan satu dan tujuh jembatan.


Kecamatan Lahei Barat 133 kepala keluarga, rumah terendam 133, satu sekolah, satu kantor, dua sarana kesehatan, satu pasar dan tiga jembatan. Wilayah Kecamatan Lahei sebanyak 439 kepala keluarga, 439 rumah terendam 439, satu sekolah, dua rumah ibadah, satu pasar, dan lima jembatan.


Sedangkan Kecamatan Teweh Baru 385 rumah terendam 387 kepala keluarga, dua sekolah, empat rumah ibadah, satu pasar, dan satu jembatan. Teweh Selatan 74 rumah terendam, 98 kepala keluarga, dua sekolah, dua rumah ibadah, satu kantor, satu sarana kesehatan dan tiga jembatan. Sementara di wilayah Kecamatan Montallat sebanyak 25 rumah terendam, 25 kepala keluarga 4 sekolah, satu sarana kesehatan, satu pasar, dan dua jembatan.


Pantauan di lapangan pada Minggu (29/4), sejumlah rumah warga yang berada di dataran rendah seperti di Jalan Merak, Imam Bonjol, Dahlia Gang Paraguai, Mawar dan Panglima Batur terendam banjir.


Untuk di Jalan Merak ketinggian air hingga mencapai 50-60 cm. Di Jalan Imam Bonjol dan Merak sudah tidak bisa dilewati kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat.               


“Saat ini banjir mulai merendam jalan kawasan tempat tinggal kami di Jalan Merak,” kata Yani, warga Jalan Merak, Minggu.


Dikatakannya, banjir mulai menggenang Jalan ini sejak Jumat malam dan hingga kini air terus naik secara perlahan , dan saat ini warga mulai berkemas-kemas untuk mengangkut sejumlah barang rumah tangga ke tempat yang lebih aman dari banjir musiman ini,” katanya.


Sementara Kelurahan Jambu yang terendam banjir yakni di Manggala RT 05 dan RT 06 dengan ketinggian air bervariasi antara 0,5 hingga 1,5 meter.


Meski banjir perlahan naiknya namun sejumlah kawasan dataran masih terendam banjir. "Kalau di wilayah hulu atau Kabupaten Murung Raya tidak hujan, maka banjir di daerah ini diperkirakan besok mulai surut," katanya.


Sementara banjir yang melanda wilayah Kelurahan Lahei I dan Lahei II Kecamatan Lahei juga terus naik, ketinggian banjir di wilayah Kelurahan Lahei II sekitar 50 centimeter.


"Tadi malam banjir masih belum sampai ke jalan, namun pagi ini sudah merendam sejumlah kawasan rendah di Kelurahan Lahei I," kata Camat Lahei Rayadi.


Dia mengatakan banjir yang paling parah dialami Kelurahan Lahei I yang pagi ini sudah mencapai hampir 1 meter dan ada rumah warga yang mulai terendam banjir.


"Jalan menuju ke Kelurahan Lahei I sudah tidak bisa dilewati kendaraan bermotor dan hanya bisa dijangkau menggunakan perahu bermotor atau sampan," katanya.


 


Banjir Jalan Provinsi Meluas 


Hingga Minggu (29/4), banjir yang terjadi di ruas Jalan Pangkalan Bun menuju Kecamatan Kotawaringin Lama (Kolam) makin meluas. Banjir di jalan provinsi tersebut akibat luapan Sungai Lamandau dan Sungai Arut.


Para pengguna jalan harus berhati-hati saat melintas, pasalnya ada beberapa titik yang terendam mencapai 50 cm hingga 1 meter. Ditambah lagi banyaknya lubang yang membuat banyak kendaraan roda empat terjebak.


Saat ini untuk kendaran roda dua harus menggunakan jasa getek dengan tarif Rp125 ribu/motor untuk melintasi 6 titik banjir di jalur tersebut. Jarak tempuh mulai Km 5 dari Kolam sampai dengan Km 18.


Ruslan, salah seorang pemilik getek mengatakan banjir yang parah terjadi dua hari terakhri, untuk itu dirinya dan pemilik Getek lainnya pun menawarkan angkatan jasa untuk pengendara roda dua. 


"Satu kendaraan Rp 125.000/ motor, berikut dengan orangnya juga itu, banjir ini pun membawa rejeki, rata rata setiap Getek bisa sehari bisa tiga sampai empat Rit mengangkut," ujar Ruslan. 


Sementara itu, Andreas, karyawan sebuah perusahaan di Kolam, mengatakan, biaya sebesar itu sangat memberatkan, apalagi dirinya harus pulang pergi yang berarti Rp 250.000.


"Kami mohon pemerintah yang serius menangani masalah ini, sampai kapan jalan ini akan mulus kalau hanya ditimbun terus maka banjir akan tetap terjadi," ujarnya. 


Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat Hermon F Lion mengatakan, pihaknya telah melakukan pantauan bersama dinas terkait ke lokasi banjir yang terjadi situasi jalan Pangkalan Bun ke Kecamatan Kolam.


Menurut Hermon, masih tingginya curah hujan bukan saja membanjiri ruas jalan Pangkalan Bun menuju Kolam, namun juga pada (28/4) banjir terjadi di Kecamatan Pangkalan Banteng yakni tepatnya di Desa Sungai Hijau. Akses jalan menuju desa itu terendam air dengan arus yang deras. 


"Meski banjir yang terjadi di Desa Sungai Hijau itu tidak sampai ke pemukiman tetapi warga disana tetap waspada mengingat curah hujan  masih tinggi, 


Namun demikian, kata Hermon, sampai Minggu (29/4) banjir di Desa Sungai Hijau mulai surut dan akses jalan sudah dapat di lewati, namun masih ada beberapa titik yang terendam dengan ketinggian 20-30 cm.


"Puncak curah hujan ini kan terjadi pada April dan Mei, sehingga kamipun selalu Melaksanakan  patroli memantau titik titik yang rawan banjir,” kata Hermon. yoh/c-ryu/c-uli